The Venture of Islam

The Venture of Islam, Iman dan Sejarah dalam Peradaban Dunia
Buku Pertama: Lahirnya sebuah tatanan baru
Oleh: Marshall GS Hodgson
Penerjemah: Dr Mulyadhi Kartanegara
Penerbit: Paramadina



Buku ini sebenarnya merupakan bacaan wajib bagi mata kulian Islamic Civilization di Universitas Chicago, yang merupakan mata kuliah wajib bagi mahasiswa-mahasiswa Departemen Bahasa-bahasa dan Peradaban Timur Dekat dan Pusat Penelitian Timur Tengah – yang dirancang sendiri oleh Hodgson.
Kata pengantar dari penerjemah mencoba memperingatkan pembaca bahwa buku ini bukanlah karya yang mudah dipahami bahkan oleh orang yang berbahasa Inggris, apalagi menerjemahkannya, dan terlebih lagi bagi kita yang membacanya dalam bahasa Indonesia. Ini adalah karya yang sulit dipahami, bukan sebuah buku yang dibuat dengan ringan.

Bagian Pengantar berusaha memberikan pendahuluan bagi pembaca yang sama sekali asing dengan Islam, cara membaca huruf, nama-nama arab, penanggalan dlsb. Prolog, merupakan uraian panjang lebar dan re definisi dari penulis untuk menjelaskan terma-terma baru (Oksiden, islamdom, islamicate, islamicist, islamics, Nil sampai Oksus, Bizantium dlsb) dan batasan-batasan geografis yang tidak berdasarkan batas negara-negara modern yang dirasa perlu diciptakan oleh penulis untuk menghasilkan karya sejarah yang benar-benar menyeluruh dan tidak eropa sentris. Kedua bagian ini mencapai 139 halaman, dan untuk anda yang membaca buku ini, harap jangan menyerah membaca sampai disini, karena kita belum lagi masuk ke bab I.

Bab I membahas mengenai dunia sebelum Islam. Penulis membahas mengenai kebudayaan sebelum Islam yang berbasis agraris, masa aksial (800 – 200SM) dimana kebudayaan di Oikoumene berkembang dengan serentak dan sejajar. Nabi-nabi Iran dan biblikal muncul, mendirikan tradisi-tradisi literer yang kuat dalam dalam bahasa Iran kuno dan terutama dalam bahasa Ibrani (lalu ke bahasa Arami). Kawasan Nil sampai Oksus ini menghasilkan buku-buku dan lembaga-lembaga yang menyebar keluar batas wilayah mereka, dan jarang terjadi sebaliknya. Tradisi2 yang didirikan nabi2 Iran dan Yahudi memberikan stimulus imajinatif yang sangat kreatif yang melahirkan tradisi Kristen dan Manichean.

Bab II mulai menceritakan tentang Islam dan Muhammad. Digambarkan mengenai kebudayaan Baduwi dan kesetiaan sukunya , kedudukan orang arab dalam politik internasional, sistem Mekkah, Ka’bah dan paganisme yang berlebihan. Lalu diceritakan tentang Muhammad. Dalam risalah Muhammad idenya adalah bahwa hanya ada satu objek persembahan dan bahwa semua tuhan tuhan kecil lainnya bukan hanya sekunder tetapi sama sekali palsu dan sistem pemujaan mereka adalah jahat. Bagi pembaca muslim akan bertentangan pendapat dengan penulis dibagian ini, dimana penulis beranggapan bahwa Muhammad mendapat pengetahuan tentang agama2 Kristen dan Yahudi dari orang-orang yang tidak begitu memahami kepercayaan mereka sehingga uraian-uraiannya dalam Al Quran berbeda dengan versi mereka. Tetapi penjelasan-penjelasan sejarah dalam buku ini sangat membantu pembaca muslim untuk lebih memahami sejarah Islam. Bagian ini membahas keseluruhan sejarah Islam hingga berdirinya suatu masyarakat dan kebudayaan baru.

Hukum keluarga merupakan penemuan penemuan baru. Terdapat peraturan peraturan Qur’an berkenaan dengan perkawinan yang menguniversalkan satu macam perkawinan arab. Keluarga inti ditekankan sebagai unit yang mandiri dimana setiap perkawinan diberi status yang sama berdasarkan hukum. Warisan jatuh pada keluarga langsung, tidak disebarkan melalui marga. Pada waktu yang bersamaan istri-istri dan anak-anak perempuan telah diberi posisi yang lebih kokoh ketimbang yang mereka dapatkan pada perkawinan perkawinan arab. Penulis tampak mengagumi al quran, bahwa ia tidak pernah kehilangan keagungan dan martabatnya, walaupun tengah membicarakan hal yang ‘mesum’ misalnya tentang ayat dimana Aisyah dituduh berkhianat.

Bab III tentang Negara muslim pertama, dan munculnya sebuah kebudayaan regional baru, berdirinya sebuah kekalifahan. Diterangkan rinci mengenai kekalifahan yang empat, juga fitnah yang pertama dan kedua, dan beralihnya kekalifahan dari Muawiyah kepada Marwani.

Membaca buku ini dapat membantu kita untuk mempelajari Islam secara historis mulai dari jaman pra Islam hingga masa awal kekalifahan. Pendekatan historis penting untuk memahami ide, konsep dan pemikiran suatu bangsa sehingga di Univeristas Chicago kajian kajian historis, pendekatan dan metodologi kesejarahan sangat mendapat tekanan, dan kini mempengaruhi pemikiran dan metodologi para sejarawan kontemporer di mana saja.

Read More......

ISLAM NUSANTARA

ISLAM NUSANTARA
Sejarah Sosial Intelektual Islam di Indonesia
Nor Huda
Penerbit Ar Ruz Media




Islamisasi di Indonesia menurut buku ini masih merupakan perdebatan dan tidak jelas. Ada 4 teori yaitu teori India, teori Arab, teori Persia dan teori China. Teori Gujarat yang banyak diyakini sebagai tempat asal Islam di Nusantara mempunyai kelemahan karena ketika raja Samudera Pasai pertama wafat pada 1297, Gujarat masih merupakan kerajaan hindu.

Buku yang terdiri dari 12 bab ini sangat lengkap membahas mengenai perkembangan Islam di Nusantara, mulai dari tahap awal Islam ada di Indonesia, institusi sosial politik, gerakan keagamaan, keulamaan, sufistik mistk, tarekat dlsb, hingga Islam di masa kini.

Dituliskan juga mengenai hubungan yang erat antara Timur Tengah dan Nusantara yang dikenal sebagai murid-murid Jawi di Haramayn pada paro kedua abad ke 17 yang membentuk perkampungan koloni Jawi. Jaringan ulama yang berpusat di Haramayn ini menyebar ke berbagai wilayah dunia Islam khususnya kawasan Samudera Hindia yang mencakup Afrika Utara dan Timur, Arabia Selatan dan Timur, Asia Selatan, anak benua India dan Nusantara. Dikatakan bahwa wacana intelektual keagamaan yang berkembang dari sana adalah ‘kembali kepada ortodoksi’ dengan doktrin yang lebih skriptualistik. Pada masa itu juga telah terjadi hubungan yang harmonis antara sufisme dan syariah, hal yang telah diusahakan oleh Al Ghazali pada abad ke 11 dan 12 M akhirnya telah menemukan bentuknya yang sempurna di Haramayn.

Buku ini sangat berguna untuk lebih mengenal Islam di Indonesia walaupun tidak membahas mengenai perkembangan Islam di bagian Timur Indonesia (karena, barangkali memang tidak ada?) dan untuk lebih memahami karekateristik Muslim di Indonesia yang menurut penulis terletak di pinggiran Dunia Islam yang merupakan presentasi dari Islam yang paling sedikit mengalami arabisasi.

Jika boleh saya memberi saran untuk penulisan berikutnya yaitu adakah kemungkinan bagi penulis untuk sedikit mengikuti jejak ahli sejarah Hodgson untuk selalu memberikan definisi bagi istilah-istilah yang digunakan, dalam hal ini yaitu untuk mendefinisikan ulang ‘Nusantara’ ini. Barangkali batas-batas arealnya di definisikan kembali atau diperkecil dan tidak mencakup perbatasan negara dan diberi nama khusus, karena sepertinya perkembangan Islam untuk areal Indonesia (barat) dan Malaysia dan beberapa bagian Thailand dan Filipina barangkali mempunyai sejarah Islamisasi yang sama.

Read More......

Bahkan malaikat pun bertanya

Bahkan malaikat pun bertanya
Even angels ask: A Journey to Islam in America
Dr Jeffrey Lang
Penerbit: Serambi Ilmu Semesta




Buku ini terdiri dari 6 bab yang ditulis oleh seorang mualaf (muslim baru) Amerika yang juga seorang guru besar matematika.

Bab 1 menunjukkan kesulitan dan kesedihan seorang muslim kerturunan Aljazair di amerika ketika anaknya berpaling dari islam. Bab selanjutnya berusaha menjelaskan tentang al quran kepada pembaca yang belum begitu akrab dengannya. Lalu dijabarkan tentang perasaan orang ketika pertama kali membuka alquran dan membaca surat petama al fatihah yang menurutnya adalah pengabulan suatu doa. Lalu dilanjutkan dengan membaca surat kedua.

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat “Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi” Malaikat berkata mengapa engkau hendak menjadikan (khalifah) di muka bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji engkau?” Tuhan berfirman “Sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui” (2:30)

Bab ini menunjukkan ayat-ayat yang telah menuntun penulis menuju Islam. Jawaban-jawaban dari kegelisahan manusia dalam mempertanyakan pertanyaan sulit “mengapa Tuhan menciptakan manusia?” dan juga pertanyaan-pertanyaan lain tentang takdir, kejahatan dan godaan, nabi dan lain-lain dan menunjukkan jawaban-jawabannya dari ayat-ayat al quran.

Bab ketiga tentang kisah mualaf Amerika dan kesulitan mereka hidup di Amerika. Juga ada kisah pengakuan penulis kepada ibunya yang katolik bahwa dia telah islam, tentang pandangan-pangdangan barat terhadap Islam, pengalaman mualaf barat dan pendapat-pendapat penulis tentang masalah-masalah dan miskonsepsi tentang Islam di barat.

Bab 4 membicarakan mengenai Merawat Keimanan. Banyak kewajiban ritual yang harus dilakukan untuk menjadi Muslim. Melafalkan syahadat, shalat 5 waktu, puasa di bulan ramadhan, zakat dan haji. Dan dibahas pula mengenai perbedaan-perbedaan dan permusuhan antara Muslim Sunni dan Syiah di Mesjid Amerika dan pengalaman penulis melaksanakan ibadah haji.

Bagi pembaca muslim mengikuti langkah demi langkah sang penulis menuju islam sungguh menarik, bahkan seorang muslim dari lahir bisa me refresh keimanannya dengan mengikuti apa yang dilakukan penulis, dengan mulai mengkaji Al Qur an, ayat demi ayat.

Membaca buku ini juga membuka mata mengenai sulitnya menjalankan hidup secara ‘islami’ di dunia barat, dan menyadari bahwa hal itu tentu sangat berat, dan bagaimana jika hal tersebut menimpa kita. Apakah kita akan tetap menjalani kehidupan ‘islami’ kita yang sekarang bila kita tinggal di negara non islam? dan bahwa apakah hal-hal yang di klaim sebagai 'islami' itu adalah ajaran islam ataukah kebudayaan arab yang melingkupinya?

Read More......

Sejarah Teks Al Qur’an - Dari wahyu sampai kompilasi

Sejarah Teks Al Qur’an - Dari wahyu sampai kompilasi
Judul asli: The History of the Qur’anic Text - From Revelation to compilation
Penulis: Prof . Dr. MM Al A’zami
Penerbit: Gema Insani


Penulis adalah cendekiawan kelahiran Mau, India yang mendapat gelar Phd nya dari Universitas Cambridge.

Buku ini berisi tentang pengenalan singkat sejarah Al quran dari segi penulisan dan koleksinya. Buku ini dibagi menjadi dua bagian yaitu Sejarah teks Al quran dan Sejarah kitab-kitab suci biblikal. Kedua bagian tercakup dalam 19 Bab, merupakan buku yang cukup lengkap dalam membahas mengenai ini. Sejarah penulisan Al quran sendiri barangkali bukan merupakan hal yang umum diketahui oleh sebagian besar muslim.


Bab ke lima buku ini mulai membahas mengenai penyusunan surah. Dipercaya bahwa susunan surah yang ada sekarang adalah identik dengan mushaf Uthmani. Terdapat daftar dari museum Salar Jung Hyedarabad India yang berisi manuskrip manuskrip dari abad yang berlainan dengan urutan surah yang berlainan pula. Bab selanjutnya mengenai kompilasi tulisan Al quran yang telah dimulai pada zaman kekuasaan Abu Bakar.
Ketika masa pemerintahan Uthman terdapat perselisihan dalam pembacaan Al quran. Lalu dibuatlah panitia yang terdiri dari 12 orang untuk membaca ulang, mengumpulkan dan menabulasikan Al quran. Naskah mushaf Uthmani ini kemudian diverifikasi, diduplikasi dan didistribusikan keseluruh wilayah Negara Islam. Menurut riwayat terdapat 4 atau hingga delapan kopi mushaf ini. Setelah selesai tugas ini semua pecahan (fragmentasi) dibakar atas perintah Uthman. Setiap mushaf yang dikirimkan lengkap dengan pembacanya. Naskah ini hanya terdapat huruf konsonan, tanpa vokal dan titik, sehingga masih bisa dibaca salah dalam bermacam cara.
Bab 8 membahas mengenai penambahan alat bantu pada mushaf. Mula-mula ditambahkan tanda pemisah surah lalu pemisah ayat. Bab 9 membahas mengenai ilmu tulisan arab kuno. Bab selanjutnya membahas sejarah tanda titik pada tulisan arab kuno, dan tanda diakritikal.

Dilaporkan pada jaman pemerintahan Umar seorang guru mengaji melakukan kesalahan dalam mengajar sehingga Umar memberhentikannya. Hal ini membuat Umar meminta Abu al Aswad Du’ali untukmenanggulanginya. Dia menerapkan empat tanda dikritikal yang diletakkan di ujung huruf tiap kata. Titik merah diatas atau dibawah menjadi dammah, fathah atu kashrah. Pada zaman muawiyah dia menerima perintah untuk menerapkan tanda titik ini kedalam naskah mushaf. Beberapa lama kemudian sistem ini disempurnakan dengan mengganti tanda titik merah dengan bentuk tertentu. Dibahas pula penyebab dari munculnya ragam bacaan dan kontroversi seputar mushaf Ibnu mas’ud.
Bagian kedua buku dibahas mengenai kitab-kitab suci biblikal, kitab suci umat Yahudi dan sejarahnya, Perjanjian Lama, sejarah awal Kristen, sejarah dari kredo-kredo Kristen dlsb.

Pengetahuan yang kita dapat dari membaca buku ini sangat besar, terutama bagi Muslim. Sungguh sangat wajar kita mengetahui sejarah dari bacaan utama kita, panutan jalan hidup. Dengan mengetahui sejarahnya kita akan semakin mengimani dengan logika, dan tidak menganggap kitab yang kita baca ini adalah sama persis huruf per huruf seperti yang diturunkan kepada nabi. Justru setelah membaca buku ini, ilmu-ilmu yang membahas mengenai jumlah huruf dalam al quran menjadi tidak bermakna.

Memang Al quran seharusnya adalah cahaya hidup, yang harus dibaca dan berusaha dimaknai, tanpa terlalu pusing dengan perbedaan huruf (biasanya huruf mati) yang tidak merubah makna pada mushaf-mushaf yang ada bahkan sampai sekarang ini.

Read More......

Memburu makna agama

Memburu makna agama
Judul Asli: The meaning and end of religion
Penulis: Wilfred C. Smith
Penerbit: Mizan
Harga:

Penulis adalah seorang pengajar dan pengkaji masalah-masalah lintas agama, dan telah meninggal pada tahun 2000 silam.

Penulis mencoba membahas definisi religi, yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi ‘agama’. Penulis merasa kita harus memeriksa kebiasaan kita memberikan nama pada religi-religi.

Penulis berusaha membeberkan kata dan konsep religi dan asal muasal kata ini. Penulis mempertanyakan apakah memang ada konsep terjemahan yang memadai untuk kata ‘religion’ pada masa silam di luar peradaban barat. Dan ternyata memang tidak ada.


Kata religi berasal dari bahasa latin ‘religio’. Pada awalnya kata itu digunakan untuk merujuk suatu kuasa di luar manusia yang mewajibkan manusia melaksanakan perilaku dibawah ancaman sanksi yang berat, semacam tabu. Ada istilah ‘religosae locae’, yang artinya tempat-tempat kudus/wangit. Istilah itu secara lambat laun berubah arti, bersamaan dengan berkembangnya agama Kristen.

Ada dua orang yang perannya besar dalam perkembangan kata ini. Yang pertama adalah Jerome yang memperkenalkan istilah religio ketika menterjemahkan Injil ke bahasa Latin. Jerome menggunakan istilah ini untuk mengacu pada suatu ritus, untuk memadankan kata threskeia, bahasa yunani di perjanjian baru yang artinya ketaatan religius, praktik ritual, cara pemujaan. Orang kedua adalah Santo Agustinus, seorang penulis jaman sebelum Renaisans dengan bukunya De Vera Religione, atau “Tentang (satu-satunya) religi yang benar”

Lalu dibahas pula tentang masyarakat-masyarakat yang belum maju peradabannya didunia atau primitif. Setiap komunitas mempunyai apa yang disebut orang modern sebagai religi, tetapi tidak satupun komunitas tradisional ini memiliki istilah untuk mengacu pada religi secara umum. Mereka akan mengatakan “Adalah adat kebiasaan kami untuk…”. Ketika hal yang sama diterapkan untuk kebudayaan kuno Yunani, Mesir, Iran, Aztec, India, Cina dan Jepang pun tidak ditemukan padanan kata untuk istilah religi ini. Contoh dalam bahasa Indonesia modern, kata “agama” diambil dari bahasa Sanskrit yang artinya “teks”. Adat istiadat religius Jawa kuno digolongkan sebagai “agama Jawa”, istilah yang menimbulkan pertanyaan.

Kasus khusus terjadi pada Islam yang secara sadar telah melekatkan nama religinya dengan istilah Islam. Dalam kasus-kasus lain belum pernah ditemukan religi yang dengan sadar diberi nama. Bahasa Arab mempunyai istilah dan konsep yang hampir sepadan dengan “religi” barat, yaitu kata “din”. Pada kamus-kamus klasik padanan kata ini adalah ‘wara’, atau ‘kesalehan, dan tidak pernah memiliki makna sistematika atau komunitas, dan tidak dapat dijadikan bentuk jamak. Bentuk jamak ‘adyan’ ada, tapi tidak terdapat dalam Al Qur,an.

Kutipan yang menarik dari buku ini:

Jika saya katakana dalam bahasa Inggris sebagai yang dapat segera saya ucapkan “I am not a Muslim”, setiap orang yang paham bahasaa Inggris dapat mengerti apa maksud saya itu. Akan tetapi yang menarik kalimat itu mustahil diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Saya tidak dapat mengatakan “Lastu bi muslimin” karena itu akan berarti “saya tidak berserah diri pada Tuhan” yang tentu saja tidak benar dan pasti akan terdengar menantang dan menghujat Tuhan. Lalu tulisan di Catholic Ensyclopaedia : Religi….berarti serah diri sukarela seseorang kepada Tuhan”, dan kita minta seseorang menerjemahkan ke bahasa Arab yang akan terjadi tentu menarik sekali:seorang imam dan sarjana katolik Roma dalam suatu publikasi gereja yang sah akan seolah menyatakan bahwa religi yang benar adalah Islam.

Sebuah buku yang menarik bagi pembaca yang berminat terhadap masalah agama dan kerukunan beragama. Mempertanyakan kembali masih perlukah istilah religi atau agama ini digunakan pada jaman modern, mengingat tidak jelasnya arti sebenarnya dari kata ini, yang memilah-milah manusia berdasarkan keyakinan hati ataupun adat istiadat, dan membuat garis-garis pemisah yang memisahkan dan menceraiberaikan manusia.

Read More......

Designed by Posicionamiento Web | Bloggerized by GosuBlogger